Crazy Beautiful Journey menjadi Bipolar

Diperbarui: 3 hari yang lalu

Bagi yang belum tahu, Bipolar Disorder adalah penyakit gangguan mental yang di sebabkan oleh perubahan emosi yang drastis. Bisa tiba-tiba merasa sangat bahagia (mania) kemudian sangat sedih (depresi). Bahasa gaulnya mood swings.


Butuh waktu dan keberanian untuk aku bisa menulis perjalanan menjadi seorang bipolar. Bukan karena isu mental health lagi menjadi trending topik ya. Lebih tepatnya karena 5 tahun yang lalu, tepat di hari ini. Aku di diagnose Bipolar Disorder I with Rapid Cycling setelah melewati rangkaian test dari 3 dokter yang berbeda.


Meskipun sudah banyak yang meminta untuk sharing journeyku. Tapi ada 2 alasan yang selama ini menghalangiku. Menurutku tidak semua orang harus tahu, karena bisa saja jadi boomerang buat aku. Apalagi aku punya suami dan 2 anak remaja yang tumbuh normal.


Dan aku juga gak mau mereka di judge sama orang lain karena stigma “gila” yang salah. They are my 24/7 support systems. I love them so much and I will not let anybody hurt them. Jadi sebelum ada orang yang menyakiti mereka. Aku harus kuatkan mental terlebih dahulu. So, here goes my Crazy Beautiful Journey Menjadi Bipolar.


Mental Health Issue Bukanlah Trend


Membandingkan jamannya dulu ku di diagnose dengan jaman sekarang. Rasanya campur aduk antara flash back, senang dan sedih. Senang, karena akhirnya tidak menjadi hal tabu untuk di bahas. Sedih, karena banyak orang yang menyalah-artikannya dan melakukan self-diagnose. Karena alasan ini juga, akhirnya aku memberanikan diri untuk speak up.


Kalau di ingat kembali. Dulu yang paling menyakitkan itu. Banyak teman yang menganggapku gila atau punya kepribadian ganda. Hanya karena stigma salah yang beredar selama ini dan kurangnya pengetahuan.

menjadi bipolar disorder 1 with rapid cycling

Wajah 6 hari mulai pengobatan

Bagaimana rasanya menjadi Bipolar atau ODB (Orang Dengan Bipolar)?


Reaksi pertama. Shock dan sedih. Sungguh di luar dugaan. Tahunya pas di usia 35 tahun pula. Di saat anak-anak beranjak menjadi remaja. Tapi kalau kata Suamiku, “It’s not the end of the world.”

Jujur, gak gampang harus melewati masa2 itu. The first 6 months was like hell. Setiap harinya harus ada yang menemaniku di rumah. Entah itu suamiku, orangtuaku atau sahabatku. Terpaksa ku minta anak-anakku di ungsikan dulu di rumah orangtuaku, karena aku gak mau mereka lihat Bundanya sedih.


Selanjutnya, ku harus minum obat 3x dalam sehari dengan dosis yang tinggi. Tujuannya untuk menstabilkan hormon seretonin, endorfin dan dopamin dalam tubuh. Dan masa pengobatan ini terjadi selama 3 tahun. Rasanya, beuhh gak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Apalagi aku tipe orang yang tidak percaya dengan obat-obatan. Ternyata, perang lawan diri sendiri, lebih sulit dari pada perang sama orang lain.


Yang paling sulit lagi, menjadi orang yang hidup dengan Bipolar. Level stressnya sama. Beruntung sekali, aku di tangani dokter dan support system yang luar biasa sabar dan gak pernah ninggalin aku di masa relapse (kambuh) dan penyembuhan. They all have faith in me.


I pray for them everyday for giving me love, reasons to laugh and most of all.. HOPE. Suami, anak-anakku dan otangtuakulah yang menjadi alasan kuat aku harus bertahan. Karena aku ingin selalu menemami mereka. Apalagi melihat anak-anakku menikah suatu hari nanti.


Menjadi Bipolar Bisa Hidup Tanpa Obat


Seperti virus flu atau alergi. Menjadi Bipolar Disorder tidak akan hilang selama aku masih hidup. Tapi bisa mencegahnya dengan menghindari pemicunya, merubah gaya hidup dan memiliki pola pikir yang sehat. Step by step aku rubah satu per satu. Minum obat sesuai anjuran dokter. Pelan-pelan gejalaku mulai menghilang. Dosis obatpun jadi berkurang. Sampai akhirnya dokter memberiku cap approved untuk berhenti minum obat.


Yes, I am living proof kalau orang dengan Bipolar Disorder 1 with Rapid Cycling bisa hidup normal tanpa ketergantungan obat.

Alhamdulillah di hari ini, aku sudah 2 tahun tidak minum obat. Sungguh rasanya senang dan bangga sekali. Ternyata, penyakit Bipolar tidak separah Cancer, Aids dan penyakit berat lainnya. Tapi juga tidak boleh di remehkan. Karena bisa jadi silent killer yang membahayakan nyawa. Justru dengan bisa melewatinya, ternyata malah membawa banyak dampak bagus ke dalam hidupku. Aku jadi bisa mengerti dari semua sisi. Mau dari sisi orang sakit, orang normal apalagi menjadi orang aneh. Semua bisa. And that’s what makes my life becomes Crazy Beautiful.


Belajar Untuk Menghargai Hidup


I don’t regret for whatever happens in my past. Because it shaped me to who I am today. Tanpa merubah jati diriku. Tapi menjadikannya a better version of me. Alhamdulillah, today I am blessed and happy in so many ways.


Jangan jadikan penyakit mentalmu, sebagai penghambat hidup kamu. Tapi jadikanlah sebagai daily reminder kalau Tuhan sayang sama kamu. Jadikan juga sebagai motivasi, kalau hidup kamu ini memang berguna. Setidaknya untuk mereka yang selalu ada untuk kamu. Dan mereka yang memiliki penyakit yang sama denganmu.


Tidak usah merasa malu, apalagi takut. Jika merasa ada gejala. Segera ke psikolog. Cari psikolog yang membuat kamu nyaman, karena beliau yang akan membantu kesembuhan kamu. Kalau sampai harus berobat, nanti akan di referensikan ke psikiater oleh psikolog. Jangan pernah skip obat. Kalau ke skip, kamu harus ulang lagi dari awal.


Dan yang paling penting lagi, jauhi teman-teman yang toxic karena mereka akan menghambat penyembuhanmu. Jangan pernah merasa Kamu sendirian. Karena sahabat yang baik tidak akan pernah meninggalkanmu. Apalagi Tuhan. Yakinlah kamu bisa melewati ini semua. Semoga tulisanku bisa memberi insights dan harapan bagi kamu yang sedang berjuang saat ini. Let me know how you feel ya.


#orangdenganbipolar #mentalhealth #journal #bipolardisorder #mentalhealthawareness #travelbeib

6 tampilan0 komentar

Postingan Terkait

Lihat Semua