Crazy Beautiful Journey Menjadi Bipolar

travelbeib menjadi bipolar disorder

Butuh waktu dan keberanian untuk aku bisa menulis ini. Bukan karena mental health issue lagi menjadi trending topic. Lebih tepatnya 5 tahun yang lalu di hari ini. Aku di diagnose Bipolar Disorder I with Rapid Cycling. Itupun setelah melewati rangkaian test dari 3 dokter yang berbeda. So, here goes my Crazy Beautiful Journey Menjadi Bipolar.

Meskipun sudah banyak yang meminta untuk sharing journeyku. Tapi ada 2 alasan yang selama ini menghalangiku. Menurutku tidak semua orang harus tahu, karena bisa saja jadi boomerang buat aku.

Dan yang terutama. Aku punya suami dan 2 anak remaja yang tumbuh normal. Aku gak mau mereka di judge sama orang lain karena stigma “gila” yang salah. They are my 24/7 support systems. I love them so much and I will not let anybody hurt them. Jadi sebelum ada orang yang menyakiti mereka. Aku harus kuatkan mental terlebih dahulu.

Mental Health Issue Bukanlah Trend

Membandingkan jamannya dulu ku di diagnose dengan jaman sekarang. Bikin perasaan hati campur aduk. Antara flash back, senang dan sedih. Senang, karena akhirnya tidak menjadi hal tabu untuk di bahas. Sedih, karena banyak orang yang menyalah-artikannya dan melakukan self-diagnose. Karena alasan ini juga, akhirnya aku memberanikan diri untuk speak up.

Tapi kalau di ingat kembali. Dulu yang paling menyakitkan karena banyak teman yang menganggapku gila atau punya kepribadian ganda. Hanya karena kurangnya pengetahuan dan stigma salah yang beredar selama ini.

menjadi bipolar disorder 1 with rapid cycling
Wajah 6 hari mulai pengobatan

Bagaimana rasanya menjadi Bipolar atau ODB (Orang Dengan Bipolar)?

Reaksi pertama. Shock dan sedih. Sungguh di luar dugaan. Apalagi tahunya pas di usia 35 tahun. Di saat anak-anak beranjak menjadi remaja. Tapi kalau kata Suamiku, “It’s not the end of the world.”

Jujur, gak gampang harus melewati masa2 itu. Aku tipe orang yang tidak percaya dengan obat-obatan. Tapi harus minum obat 3x sehari dengan dosis yang tinggi selama 3 tahun. Tujuannya untuk menstabilkan seretonin, endorfin dan dopamin dalam tubuh. Rasanya gak bisa di jelaskan dengan kata-kata. Ternyata, perang lawan diri sendiri, gak segampang perang sama orang lain.

The first 6 months was like hell. Setiap harinya harus ada yang menemaniku di rumah. Entah itu suamiku, orangtuaku atau sahabatku. Anak-anakku terpaksa ku minta untuk di ungsikan ke rumah orangtuaku, karena aku gak mau mereka lihat Bundanya sedih.

Tidaklah mudah, menjadi orang yang hidup dengan Bipolar. Level stressnya sama. Beruntung sekali, aku di tangani dokter dan support system yang luar biasa sabar dan gak pernah ninggalin aku di masa relaps dan penyembuhan. They all have faith in me. And I pray for them everyday for giving me love, reasons to laugh and most of all.. Hope. Suami, anak-anakku dan otangtuakulah yang menjadi alasan kuat aku harus bertahan. Karena aku ingin selalu menemami mereka. Apalagi melihat anak-anakku menikah suatu hari nanti.

Menjadi Bipolar Bisa Hidup Tanpa Obat

Seperti virus flu atau alergi. Menjadi Bipolar Disorder tidak akan hilang selama aku hidup. Tapi aku bisa mencegahnya dengan menghindari pemicunya dan merubah gaya hidup dan pola pikir yang sehat. Step by step aku rubah satu per satu. Pelan-pelan gejalaku mulai menghilang. Dosis obatpun jadi berkurang.

Sampai akhirnya dokter memberiku cap approved untuk berhenti minum obat.

Yes, I am living proof kalau orang dengan Bipolar Disorder 1 with Rapid Cycling bisa hidup normal tanpa ketergantungan obat.
Alhamdulillah di hari ini, aku sudah 2 tahun tidak minum obat. Sungguh rasanya senang dan bangga sekali.

Ternyata, penyakit Bipolar tidak separah Cancer, Aids dan penyakit berat lainnya. Tapi juga tidak boleh di remehkan karena bisa membahayakan nyawa. Justru dengan bisa melewatinya, malah membawa banyak dampak bagus ke dalam hidupku. Aku jadi bisa mengerti dari semua sisi. Mau dari sisi orang sakit, orang normal apalagi menjadi orang aneh. Semua bisa. My life becomes Crazy Beautiful.

Belajar Untuk Menghargai Hidup

Jangan jadikan penyakit mentalmu, sebagai penghambat hidup kamu. Tapi jadikanlah sebagai daily reminder kalau Tuhan sayang sama kamu. Juga motivasi, kalau hidup kamu memang berguna. Setidaknya untuk mereka yang selalu ada untuk kamu. Dan mereka yang memiliki penyakit yang sama denganmu.

I don’t regret for whatever happens in my past. Because it shaped me to who I am today. Tanpa merubah jati diriku. Tapi menjadikannya a better version of me. Alhamdulillah, today I am blessed and happy in so many ways.

Semoga tulisanku bisa memberi insights dan harapan bagi kamu yang sedang berjuang. Kamu tidak sendirian. Let me know how you feel ya.

XoXo, Travelbeib Signature on About Page

Recent post:

5 comments

  1. Semangat selalu buat mba Shastri! Terimakasih udah mau sharing tentang pengalaman mba, saya masih awam tentang bipolar, sekarang jadi lebih tahu. Sehat dan bahagia selalu mbaa

  2. ngeri2 sedap juga bila kurang pemahaman, tapi bila cukup apapun yang terjadi pasti baik-baik saja apalagi dunia psikologi berkembang sangat pesat dan bs di lakukan treatment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.